Monday, November 7, 2011

Komoditas Cabai di Indonesia



Cabai termasuk salah satu komoditas penting rakyat Indonesia. Biasanya paling banyak digunakan dalam bentuk segar maupun olahan untuk konsumsi rumah tangga,industri pengolahan makanan,dan industri makanan. Selain itu cabai merah dimanfaatkan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Cabai merah mempunyai luas areal penanaman paling besar diantara komoditas sayur-sayuran,sehingga permintaan terhadap komoditas ini cenderung besar. Oleh sebab itulah, pergerakan harga cabai sangat disoroti , apalagi seperti saat ini menjelang perayaan hari raya Idul Adha yang biasanya kenaikan permintaannya bisa tiga sampai empat kali lebih besar dibanding hari biasa.

PERKEMBANGAN KOMODITAS CABAI
Cabai yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia terdiri atas cabai besar, cabai hijau, dan cabai rawit. Diantara ketiga jenis cabai tersebut, cabai besar yang didalamnya termasuk cabai merah, merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, disusul cabai rawit dan cabai hijau. Untuk jenis cabai merah, sebagian besar jenis cabai ini dikonsumsi oleh rumah tangga dengan pangsa penggunaannya yang mencapai 61% dari total konsumsi cabai dalam negeri. Selebihnya cabai merah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baik industri makanan maupun non makanan dan juga untuk keperluan ekspor baik dalam bentuk cabai segar maupun olahan, seperti cabai bubuk dan cabai kering.
Berdasarkan data SUSENAS, rata-rata tingkat konsumsi cabai merah per kapita mencapai 1.4 kg per tahun. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini berada pada kisaran 225 juta orang, maka kebutuhan cabai merah untuk keperluan rumahtangga diperkirakan mencapai 252 ribu ton per tahun. Ke depan, permintaan cabai merah untuk keperluan rumah tangga tersebut diperkirakan akan berkelanjutan dan stabil tinggi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi cabai merah dalam bentuk segar untuk keperluan sehari-hari dan belum terdapatnya bahan yang dapat mensubstitusi kebutuhan cabai tersebut. Meskipun saat ini terdapat industri yang menghasilkan cabai merah olahan, namun jumlah dan skala usahanya relatif masih terbatas dan umumnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Terkait dengan ekspor, perkembangan volume dan nilai ekspor cabai yang terdiri atas cabai segar dan cabai olahan berada pada tren yang meningkat dalam empat tahun terakhir. Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan ekspor cabai produksi Indonesia masih cukup menjanjikan dan memberikan peluang bagi peningkatan ekspor ke depannya melalui peningkatan kapasitas industri pengolahan cabai yang berorientasi ekspor. Negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor cabai Indonesia ada sekitar 51 negara, dengan Saudi Arabia, Singapura dan Malaysia sebagai negara tujuan ekspor utama dengan pangsa masing-masing 23%, 19%, dan 11% terhadap total volume ekspor.
Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama impor cabai juga menunjukkan kecenderungan yang meningkat baik dari sisi volume maupun nilainya. Berbeda dengan ekspor, negara asal impor cabai Indonesia cenderung lebih sedikit (17 negara) di mana China, India, dan Thailand sebagai negara asal impor terbesar dengan pangsa masing-masing 43%, 38%, dan 9% terhadap total volume impor. Kebutuhan impor cabai ke Indonesia yaitu untuk benih dan cabai olahan.
Cabai termasuk di dalamnya cabai merah yang dikonsumsi oleh masyarakat hampir seluruhnya berasal dari produksi dalam negeri. Untuk cabai merah, hingga saat ini terdapat 29 propinsi yang merupakan daerah penghasil cabai merah dengan tingkat produksi yang beragam 10 - 172 ton per tahun. Propinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara merupakan kontributor utama produksi cabai merah nasional dengan rata-rata pangsa terhadap produksi nasional masing-masing sebesar 26%, 15%, 14%, dan 13% (Grafik 3.40). Secara lebih terinci, kabupaten/kota penghasil cabai merah terbesar di wilayah Jawa adalah Bandung, Garut, Cianjur, Magelang, Temanggung, Brebes, Malang, Banyuwangi dan Blitar. Sementara untuk wilayah Sumatera Utara, kabupaten/kota yang merupakan sentra produksi cabai merah adalah Karo, Deli Serdang dan Simalungun

KONDISI CABAI DI PASAR SAAT INI
Menurut berita yang kami dapatkan dari detik.com (5/11), harga cabai di pasaran melambung hingga Rp 40.000/kg. Hal ini disebabkan karena adanya pergesaran titik keseimbangan harga yang diakibatkan oleh pergeseran supply dan demand cabai di pasar dimana terjadinya kenaikan tajam pada permintaan menjelang lebaran sementara kenyataan di lapangan jumlah ketersediaan cabai sangat terbatas. Kondisi ini sebenarnya sudah pasti terjadi di Indonesia apalagi menjelang hari raya Idul Adha, walaupun tidak sebesar kenaikan yang terjadi pada hari raya Idul Fitri.  
Jika dianalisis dari fenomena ini, maka keadaan cabai sedang berada pada kondisi shortage dimana jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran sehingga terjadilah keterbatasan supply cabai di pasaran. Inilah yang kemudian menyebabkan kenaikan harga. Namun walaupun sedemikian mahalnya harga cabai, penjual mengaku barang dagangannya yang sedikit itu tetap saja laku, sebagian besar pembeli memang mengurangi jatah pembeliannya akibat dari kenaikan harga tersebut. Inilah fenomena khusus tersendiri yang terjadi ketika mendekati perayaan hari raya umat Islam dimana permintaan yang cenderung besar dengan terbatasnya jumlah pasokan cabai di masyarakat menyebabkan melambungnya harga cabai.
Selain itu kondisi terbatasnya jumlah pasokan cabai juga diakibatkan oleh terganggunya produksi yang dialami oleh para petani yang diakibatkan oleh bergesernya perubahan cuaca yang mengganggu pola dan kuantitas produksi cabai. Seperti yang dilansir Kompas (8/11) bahwa biaya produksi cabai naik hingga 3x lipat. Kenaikan biaya produksi ini terjadi dikarenakan serangan hama yang bersamaan dengan datangnya musim hujan. Sehingga petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli obata-obatan pengusir hama.  Mengingat cabai merupakan jenis komoditas yang mudah membusuk, maka perubahan cuaca ini sangat mempengaruhi produksi cabai yang dikarenakan produksi cabai sangat bergantung kepada cuaca khususnya kelembaban udara dan kadar air tanah. Oleh karena itu banyak petani yang mengalami gagal panen akibat lahannya terkena banjir. 



SUMBER:

0 komentar:

Post a Comment